Friday, November 25, 2011

Interferensi Kehidupan dalam Satu papan

Tapi itu pulang les ga kaya biasanya saya lagi pengen makan diluar. Makan capcay di kedai langganan saya. Tempat biasa yang biasanya saya datengin sama sorah, irma, caca atau seringnya sih sendiri. Tempat yang saya tau banget pemiliknya. Tempat yang selalu ngasih semangkuk ketenangan buat saya.

Saya parkir di tempat biasa. Tapi keadaan tempat itu nunjukin hal yang sebaliknya. Ga biasa. Saya liat beberapa motor terparkir dan mobil mewahpun ada disana. Saya udah parkir dan masuk.

Gaada yang istimewa dari tempat itu. Bukan tempatmakan mewah yang saya datengin sama vira, bukan tempat makan handmade yang saya datengin sama yang lain, bukan cafe sepi yang selalu saya jadiin tempat renungan. Cuma tempat makan sederhana, berspanduk sebagai penutup di tiap pinggirannya dan tempat yang istimewa buat saya.

Saya pesen satu capcay. Kaya biasa. Banyak menu yang ditawarin disini dan beberapa menu udah saya coba tapi ga menggoyahkan saya untuk pindah hati dengan menu lain. 

Bukan mas yang biasa. Bukan pemilik kedai ini. Bukan juga yang biasa bantuin si yang empunya.

Saya ga hiraukan.

Saya duduk dan denger lagu yang emang dari tadi saya pasang di telinga saya selama perjalanan. Liat keadaan. Bapa yang pesen nasi goreng itu ada di depan saya. Dan seorang ibu lagi nunggu pesenannya buat dibawa kerumah. Nampaknya.

Bapa itu makan pelan banget. Kayanya pulang kerja. Mungkin ada masalah keluarga. Itu bisa saya liat dari rautnya dan keadaannya. Dengan mobilnya yang terparkir dan dia yang ada di depan saya pulang kantor, tentu gaakan ngelakuin ini kalau emang dia gaada masalah. Menghindar keluarga mungkin, frustasi kerjaan mungkin, entahlah.

Pesenan saya dateng. Saya minta sambel dan minum teh panas sebelum saya makan. Kaya biasa.  Menghirup aroma kuah yang udah kaya sup telur. Kaya biasa. Warna-warni sayur yang bikin lidah saya selalu terbakar walaupun berapa kali saya makan disni. Gasabar buat makan. Rasanya hambar. Ga kaya biasa. Dan gaada ati ayam di piring orange depan saya. Ga kaya biasa.

Masih sambil mikir tentang hal yang gapenting. Tentang presepsi gapenting itu, tentang hal yang bikin saya ga tenang dan tentang 4 bulan yang akan datang.

Sepasang orangitu menyembul dari balik spanduk. Duduk depan saya gantiin sibapa galau tadi. Kayanya baru nikah dan si istri belum bisa masak enak. Makanya mereka ada di depan saya.Buat makan sepiring capcay bedua dengan seporsi nasi. Ketawa mereka. Senyum mereka. Mereka bercanda. Tontonan yang indah di depan saya.

Masuk satu bapa sedikit tua. Dengan kartu identitas di sakunya. Kayanya pegawai. Masuk  melewati spanduk dengan sdikit membungkukkan badan dan diikuti oleh orang gendut berbatik di belakangnya. Cerminan strata yang berbeda.

Pesen nasi goreng spesial dua. Si pegawai itu bilang. 

Ga berapa lama si bapa gendut berbatik tadi ngeliatin sang chefnya malam ini masak. sambil menyilangkan tangan. Nampaknya baru pertama kali. Sementara itu si pegawai ambil gelas dan menuangkan teh ke dalamnya. Untuk sang atasan.

Pesanan selesai, mereka makan.Khusyu. 

Saya tebak ini tempat makan yang di sugest sama sang pegawai. Senyjm hormat di setiap katanya menghiasi kalimat yang dilontarkannya kepada sang atasan tentang tempat ini.

Ibu berpakaian kondangan itu datang dengan suaminya. Entah pesan apa. Si ibu nunggu dengan gasabaran. Mungkin dia kemleman buat masak sampai akhirnya harus beli. Buat anaknya yang mungkin baru dateng. Kaya saya.

Saya selesai. Ingin saya berlama tapi jam memang nunjukin angka yang ga bersahabat. Saya bayar. Saya fikir. Tentang perbedaan. Interfrensi kehidupan dalam satu papan. Satu papan meja yang sejak tadi dan dulu jadi saksi berbagai strata. Konstuktif dan saling membangun satu sama lain.


Thursday, November 24, 2011

Lord, Is that too much?

Lord, Is that too much if I just want have a friend who can listen to me carefully?
Is that too much if I just wanna have some fun?
Is that toomuch if I just wanna share with somebody else?
IS THAT TOO MUCH LORD?? DON'T YOU UNDERSTAND WHAT I FEELING INSIDE??

Mungkin saya emang ngakak. Mungkin saya emang masih autis depan anak kelas. Mungkin saya emang masih ga peduliin apa kata orang (nampaknya). Mungkin saya masih bisa ngobrol sama siapapun yang saya mau, curhat sama siapapun yang saya tunjuk atau apapun. Dan mungkin saya memang munafik.

Saya masih mendem tentang hal itu. Tentang beberapa hal yang saya pikir gausahsaya tulis di diary karena gaakan ngerubah keadaan. Tentang hal yang kadang bikin saya rapuh cuma buat hal kecil. Tentang hal yang sebenernya saya pengen banget ada yang dengerin apa itu.

Dan entahlah. Mungkin sampai saya gila saya bakal terus nyimpen hal ini.

Tuhan, kalau saya minta punya temen yang selalu ada buat saya, apa saya berlebihan?
STOP NGUMBAR AIB SENDIRI NAAA!!! CURHAT GAPENTING YANG CUMA BIKIN SAYA MONOLOG DEPAN ORANG!!

Buat Putri

Putri, nampaknya kamu gasuka sama saya. Itu yang saya liat dengan tatapan kamu yang kalau saya memposisikan diri saya sebagai kamu,mungkin saya juga akan benci sama diri saya sendiri. Tapi saya emang belum punya cara yang tepat buat kamu bisa terbuka sama saya.

Putri, saya denger kamu punya cita-cita ke STAN, jurusan akuntansi yah? Terus yang kamupindah haluan pengen jadi guru bahasa Inggris dengan masuk ke UPI dan kemudian kamu pindah lagi haluan yang dibuktiin dengan psikotes itu dengan jurusan manajemen yangsaya gatau tentang apa itu. Masih satu tipe kah sama akuntansi UNPAD yang pernah kamu mau?

Putri, maaf kalau saya yang ekspresif ini bikin kamu risih, saya emang pengen banget kamu berubah. Bukan maksud saya ingin ikut campur urusan temen saya atau orang lain yang mungkin sama sekali ga kamu anggep temen saking keselnya sama saya.

Putri, saya pengen ngerubah negara saya. Daydream saya yang kamu tau, buat itu saya pengen ngerubah hal yang kecil yang ada dalam ruang lingkup saya dulu. Dan sebenernyawalaupun cita-cita saya bukan mau ngerubah negara, saya masih greget buat ngeliat adanya perubahan sama diri kamu.

Putri, saya tau kamu yang aktif sama temen kamu yang di rancaekek itu dari berbagai sumber. Kamu yang bisa cekatan ngasih solusi sama pacar kamu, kamu yang banyaktemen di sana. Kenapa engga sih disini?

Putri, saya seneng deh liat kamu ngakak bareng gustaf, banreng taufik atau bareng orang lain yang kamu deket. Tapi kenapa sih gamau sama saya? Atau gamau sama kita? Dan minimalnya sama siapa aja yang termasuk dari jenis kamu di kelas.

Putri, saya pengen deh kamu berubah. Tapi entah, saya yang gabisa care dan gabisa lembut itu makin memperburuk keadaan ternyata. Bukannya memperbaiki.

Dan kadang di sela do'a saya, saya selipkan nama kamu. Walau ada jutaan nama putri di dunia, tapi Allah Maha mengetahui putri mana yang saya maksud.

Saya masih ga habis fikir : apa alasan kamu mendekkriminasikantemen rancaekek kamu dan temen sekolah

Wednesday, November 23, 2011

Just for Share When The Rains Fell Down!

Hujan dengan segala persepsi orang-orang terhadapnya, seolah sebuah jarum berusaha menembus baja. Tak peduli entah apa yang orang katakan. Andai ia dapat berteriak, mungkin yang akan terlontr adalah, “Mengapa kalian begitu membenci saya?” Satu sisi yang tak pernah tersadari, di balik dinginnya hujan dengan suara merdu nyanyian gemericik air, mungkin lebih menyenangkan untuk sejenak saja mereview kenangan yang pernah Kita rasakan. Ini lebih baik daripada mendengar beribu umpatan kekecewaan anak Adam atas hidupnya. Setiap tetes hujan yang jatuh mungkin mewakili sepenggal kenangan yang ada dalam memory Kita yang tertidur entah berapa lama.

Percayalah, hujan tak seburuk yang Kita bayangkan jika kita dapat mengkajinya lebih jauh lagi.

Monday — October 31, 2011

Waktu saya frustasi sama regu debat saya

Oke kita review tentang kejadian waktu itu. Saya yang ga kepilih sebagai pemain inti yang grata tau inilah fokusan saya. Saya yang sore itu langsung nangis ngeraung-raung sama grata di kelas. Marah yang mungkin grata udah tau saya adatnya kaya gini. Grata yang tau cara ngadepin orang keras kepala kaya saya. Grata yang kadang sadar hal tanpa saya harus cerita. Grata yang otaknya selalu transparan buat saya dan gitu sebaliknya. yang bisa saya jabaran dengan apa yang kata akon :  


If your eyes could speak, they would tell me
What you see when you’re looking at me
And if your hands can talk, they would tell me
What you feel when you’re touching on me
And if your feet could see, they would show me
how far you’ve come just to kick it  with me 


(lyric setelahnya gaada relevansinya sama saya)


 Grata yang selalu tau  isi otak saya dulu. Isi pikiran saya dan mungkin termasuk apa yang saya rasa. Grata yang ngerti dan. So hard to find a great friend like him. Okelah. FORGET IT!!

Hey Kawan, Dengarkanlah!

Pada hakikatnya, setiap manusia diciptakan dengan komposisi potensi yang berbeda. Baik itu potensi intelektual, akademi, logika, emosional, fisik, spiritual, sosial, dsb. Maka dari itulah, tidak mungkin semua manusia memiliki keunggulan di setiap potensi yang ada. Tapi pasti, disadari atau tidak, setiap manusia unggul dalam satu bidang, spesialisasi, dengan tingkat kemahiran dan keahlian yang berbeda pula. Tapi keahlian dan kemahiran ini bukanlah sesuatu yang kaku dan absolut. Melainkan lentur dan dinamis. Tidak merupakan titik tolak yang stagnasi. Tetapi berkembang dan meluas. Setiap potensi yang dimiliki seseorang dapat dikembangkan dan dipertajam. Dan itulah yang menjadi faktor perbedaan, “Siapa yang lebih ahli dan siapa yang lebih mahir dalam ruang lingkup yang sama?”

Potensi adalah satu dari sekian banyak anugerah Tuhan yang diberikan kerpada manusia. Tak hanya terbtas pada kualitas dan kuantitas yang kita miliki, sudah sepantasnya kita mensyukuri hal itu. Dan sungguh bukan hal yang mencerminkan rasa terimakasih jika kita menganggap bahwa, dengan potensi yng sama dan dengan potensi yang kita miliki, kita masih merasa jauh tertinggal atau bahkan tidak layak bersaing dengan orang lain. Beberapa orng berkata, “Saya lebih baik tidak mengambil kesemptan yang ada daripada harus menerima resiko jika terjatuh nanti.” Yah terjatuh dan menanggung resiko itu adalah kenyataan yang harus dihadapi ketik kita mengambil sebuah pilihan. Tapi, ukuran jatuh itu adalah kegagalan atau batu loncatan, tergantung pada sikap kita menempatkan diri kita. Jika kita menempatkan diri kita pada posisi negatif, maka kita tidak akan pernah melihat kesempatn dengan bak, kita akan selalu takut dan berpikir berulang kali, tapi pada akhirnya ketakutan kita yang mendominasi dan kita tidak akan memilih apa-apa, kesempatan yang mungkin akan membuat kita bangkit malah terlewatkan begitu saja. Tapi jika kita menempatkan diri kita pada posisi positif, maka yang timbul adalah sikap menerima kekalahan, lapang dada, dan berpikir positif dengan menjadikannya titik acuan untuk dpat berhasil dalam bidang yang sama dikemudian kesempatan. Sulit memang, tapi kethuilah, itu tidak begitu buruk. Hati kita akan lebih nyaman dan dingin dibndingkan harus mengumpat, mengeluh dan mencaci maki diri sendiri yang sebenarnya itulh yang membuat rasa optimismu termakan habis rasa pesimis.

Hey kawan, aku tahu pengetahuanmu yang luas itu, cara pandangmu terhadap suatu ksus, telaah duniami dan akheratmu itu. Kamu juga yang mengajarkanku bgaimana menyikapi sebuah kegagalan, memberiku pengetahuan tentang apa-apa yang tak ku ketahui, dan kamu jugalah yang membuatku berpikir untuk tetp disisi positif, tak perlu takut menerima resiko, mengasah pemikiran dengan argumen dan statement yang tajam, menjadi pemuda yang kritis tapi tidak sekedar ber-retorika belaka. Dan saya harap, efek yang saya terima juga berlaku untukmu. Janganlah kamu seperti ini.

Monday — October 31, 2011

Waktu saya frustasi sama regu debat saya

Get You Off

What's the point of being in love
What's the point of being with someone you can't have
I know exactly how this end
But some reason I can't help myself
...

(Forever the Sicknest Kids - She Likes)

Saya sih udah (barusaha) lupa. Tapi kamu selalu dateng waktu saya udah (hampir) lupa.Karena nyatanya saya emang gabisa sama sekali lupa untuk hal ini. Nampaknya saya tulis I used to love you juga gaada pengaruhnya sama sekali.

Okelah. Saya berusaha selalu hibur diri saya.Ngehibur dengan denger lagunya lover boy yang mika punya. mikir tentang apa sebenernya tujuan saya suka orang tujuan dari ngarep yang sebenernya gaada relevansinya sama sekali sama fokusan yang selalu saya keukeuhkan. Diplomat atau Increasing Indonesia's GNP. SAMA SEKALI GAADA RELEVANSINYA!!

Tapi yah emang ginilah saya. I just cant get you off my mind.

Kejadian kemarin-kemarin itu.

Jangan ngajak ngobrol saya sama sekali!! Jangan sentuh tangan saya sambil bilang hati-hati dan jangan ngebut dengan natap saya!! Jangan nanya apa kabarnya saya dan les saya!! Jangan teriak nama saya dari kejauhan cuma buat nyapa!! Jangan sok-sokan nawarin saya biar kamu nganter saya pergi les!!  JANGAN ADA DI DEPAN BATANG HIDUNG SAYA!! 

Mungkin orang pikir saya lebay, drama queen. Tapi inilah saya.Dengan kenyataan pahit yang saya milikin. Saya emang belum bisa lupain kamu.

Saya ingin lupa kamu. Karena inget kamupun cuma bikin saya ga damai satu arah samamantan temen deket saya. Bikin saya marah dan menjadikan wanita itu objek saya karena gamungkinlah kalau saya berlaku jahat sama kamu (maaf ma). Dengan saya yang ingin lupa kamu, itu artinya saya ingin damai sama temen saya itu.

Dan alangkah lebih baiknya kalau kamu bantu saya. Biar saya bisa lupa kamu dan sakit ini gaada lagi.

Saturday, November 19, 2011

Take it or leave it

Hey blog, apa kabar? Udah lama yah saya ga cerita. Tentang saya. Tentang idup saya yang warna-warni yang bikin saya punya alesan buat bikin nama itu jadi nama blog saya. 

Oke, prinsip decrates itu bilang : opto ergo sum. Kamu memilih maka kamu hidup. Bisa diartikan kalau hidup itu adalah pilihan. Dan berdasarkan Al-kitab urin-tumim itu satusatunya ramalan yang diperbolehkan. Dua jenis batu yang beda warna (biasanya item putih) buat jadi jawaban buat kita tanya yes or no question.

Take it or leave it. Itu juga yang selalu saya keukeuhkan. 

Dengan sms yang ga sengaja saya baca, dengan sifat yang berubah-ubah, dan dengan semua yang saya punya itu  bikin saya punya jawaban yang jelas untuk saya jalanin ke depannya. LEAVE IT!!

Hal kaya gini bukan prioritas buat aya fikirin di keadaan kaya gini. Saya harus fokus!! 

the positive thinker sees the invisible, feels the intangible, and achieves the impossible.

I wanna be that one.

Gausahlah mikirin hal yang gapenting kaya gapunya temen atau gaada yang mau denger. Gapenting juga kalau mereka cuma denger tanpa bisa ngerti. Bukan maksud pengen di ngertiin. Tapi emang bener sih, mungkin saya emang harus berhenti ngumbar aib sama orang.Berhenti curhat gapenting yang ngabisin waktu dan malah membuk pintu ghibah yang lain.

Saya harus bisa. Yang satu ini harus sangat dipaksain.

New Color, New Story

Ini blognya udah di obrak abrik dong jadi bagus deh ah. E-mail yang udah lebih dari satu tahun ga dibuka itu sempet error juga ternyata. Tapi Alhamdulillah deh sekarang mah udah engga. Terserah deh orang mau bilang apa. Saya mau nulis lagi disini aja. Tumblr yang kadang saya fikir ga banyak yang tau, facebook yang terlalu frontal, dan bikin saya fikir inilah yang ideal. hahaha

Wooowww, postingan terakhir itu taun kemaren yah? Its been so long. Yaudah deh. Mulai besok dan seterusnya saya posting sini aja yaaahhhhh